Selasa, 28 Oktober 2014

Hujan Pertama


Hujan Pertama

Musim kemarau seharusnya sudah berakhir bulan lalu, tapi nyatanya sampai sekarang kemarau masih saja belum mau pergi. Sungai-sungaipun mengering dan petani mulai bingung  bagaimana cara mengairi sawah, hingga pompa sedot air lah yang menjadi andalannya.
Dipenghujung musim kemarau kali ini, hujan nampaknya belum mau turun, walau terkadang terlihat awan hitam menutupi birunya langit, tapi benar apa yang dikatakan orang-orang bahwa mendung bukan berarti hujan, tapi jika hujan sudah pasti mendung. Nah kebiasaan orang Indonesia termasuk gue, setiap ada awan hitam di langit pasti langsung update status di sosial media, yang temanya hampir sama yaitu harapan bahwa hari ini akan turun hujan dan mirisnya hujan tak mau turun di bumi melainkan menghujani sosial media, yah hujan lebih memilih menjadi tranding topik di twitter daripada turun membasahi bumi pertiwi, hujan juga pengen eksis kali ya, hem.....
Oh iya, gue pernah lihat acara variety show di Korea yang saat pengambilan gambarnya turunlah salju pertama pertanda musim gugur telah usai. Mereka terlihat sangat senang dan sejenak mereka menghentikan aktivitas yang sedang berlangsung untuk sekedar berdoa, yups kepercayaan mereka jika melihat salju untuk pertama kali itu berarti waktunya make a wish. Hampir mirip dengan orang Indonesia, jika orang Korea saat melihat salju untuk pertama kali mereka berdoa, kalau orang Indonesia lebih ke harapan moment apa yang akan tercipta saat hujan pertama turun, dan itulah yang menjadi topik pembicaraan temen SMA gue sepulang sekolah.
“Pas hujan pertama turun, gue pengennya lagi boncengan sama pacar gue dan itu bakal jadi moment terromantis sepanjang hidup gue,” Kata Ghadis.
“Idih, moment romantis dari mana?”
“Dengerin Aku ya Dis, kata orang-orang air hujan pertama itu berbahaya bisa bikin masuk angin, kita kan udah kelas 3, seharusnya harus ekstra jaga kesehatan.” Kata Esti yang lagi-lagi percaya akan mitos-mitos yang beredar di masyarakat.
“Terus, kamu sendiri bagaimana?”
“Apa rencanamu untuk menikmati suasana indah saat rintik-rintik air hujan untuk pertama kalinya menyentuh tanah?” Tanya Ghadis.
“Simpel aja kok.”
“Aku akan duduk di teras rumah, menikmati secangkir teh hangat dan pastinya ditemani dengan suara nyaring dari air hujan yang sedang beradu degan tanah.” Jawab Esti yang sepertinya sambil membayangkan kenyamanan yang ia rasakan saat berada pada situasi yang ia ceritakan.
“Nyamannya, jadi nggak sabar nunggu hujan turun untuk yang pertama kalinya.” Kata Ghadis yang ikut membayangkan cerita dari Esti.
“Kamu sendiri gimana Ya? Apa yang akan kamu lakukan?” Tanya Ghadis dengan melihat kearah Gue yang sedari tadi asik membersihkan montor yang berubah menjadi warna abu-abu karena terutup debu.
“Lebih simpel dari Esti.”
“Gue berharap hujan pertama turun pas malam hari, jadi gue bisa tidur nyenyak sepanjang malam.” Jawabku dengan santainya.
“What, cuma tidur?”
“Hello Rya, kamu nggak nyadar apa, selama lebih dari 6 bulan kita kepanasan dan kulit kita jadi hitam karena teriknya matahari, dan kini yang kita tunggu-tunggu akan segera datang, e..kamu malah melewatkan begitu saja dengan memutuskan untuk tidur?” Tanya Ghadis.
“Itu adalah wujud menikmati hujan alaku, tahu kah kamu katak akan senang jika kebun berubah menjadi rawa walau hanya sebentar. Mereka akan mengeluarkan bunyi yang sangat nyaring, dan benar-benar itu adalah irama penghantar tidur favorit gue.”
Sebenarnya gue punya banyak harapan tentang moment hujan pertama, tapi karena nggak bakal jadi kenyataan, jadi gue milih untuk tidur aja. Salah satu harapan gue, pengennya pas hujan pertama kali ketemu sama sang mantan di pinggir toko untuk sekedar berteduh. Mau tau siapa nama mantan gue? Oke siapin nafas panjang kalian, kalau perlu siapain kresek hitam untuk tempat muntahan jika kalian tak tahan menerima kenyataan yang akan aku beberkan kali ini, nama mantan gue adalah Lee Seung Gi, yups betul sekali yang sekarang jadi pacarnya Yoona SNSD.
Walaupun terlihat sangat mustahil untuk terjadi, tapi jika Tuhan sudah berkehendak maka tak ada yang tak mungkin di dunia ini, tinggal usaha gue aja yang ditingkatin. Salah satu usaha yang harus gue lakukan adalah pergi ke Korea, atau sebaliknya gue telfon dia dan meminta dia ke Indonesia, ah tambah mustahil, hahaha. Nggak cukup datang ke Korea aja untuk bisa bertemu dengan sang mantan yang sekarang sangat sibuk dan tak sembarang orang yang bisa bertemu dengannya, yang perlu gue lakukan setelah datang ke Korea adalah nglamar jadi pengganti Jessica SNSD, yang baru-baru ini dikeluarkan tanpa sebab oleh SM Entertainment.
Dengan menjadi personil SNSD yang baru, Gue bisa mata-matain hubungan Yoona dengan Lee Seung Gi. Dan saat Yoona lengang, Gue bisa rebut Lee Seung Gi dari tangan Yoona, hahaha. Oke Fix, kita kembali ke cerita awal dan lupakan soal khayalan Gue yang tak bermutu itu, hahaha.
Sebenarnya Gue juga sedih karena nggak punya rencana apa yang akan gue lakukan saat hujan turun untuk yang pertama kalinya. Karena sebenarnya gue tak terlalu memikirkan keistimewaan tentang hujan pertama, sudah hujan saja gue bersyukur karena sumur gue nggak jadi kering, dan entah itu hujan pertama atau kedua dan seterusnya, gue akan tetap gembira dan akan terus menikmati sensasinya nggak cuma dihari pertama hujan. Tapi gara-gara Ghadis dan Esti yang mengkhususkan hujan pertama, gue jadi khawatir jika gue nggak punya moment penting yang bisa gue bagi kepada mereka, nggak lucu dong mereka asik cerita tentang hujan pertama dan gue hanya jadi pendengar setianya, hahaha. Ya semoga saja ada moment penting di hujan pertama, entah itu apa gue nggak tahu.
“Mendung ni, Gue pulang dulu ya soalnya nggak bawa jas hujan.” Setelah berpamitan ke Esti dan Ghadis, Gue langsung tancap gas meninggalkan mereka yang masih asik membahas hujan pertama.
Langit hari ini sepertinya tak lagi bersandiwara, yang ini benar-benar awan hitam pembawa air hujan bukan lagi pembawa harapan untuk hujan. Dengan kecapatan yang tak seperti biasanya, gue mengendarai beat agar cepat sampai di rumah. Tapi tanpa kuduga hujan turun sebelum gue sampai di rumah, boro-boro sampai rumah, baru sekitar 3 km dari sekolah hujan sudah mengguyurku padahal jarak rumah gue dari sekolah sekitar 7 km, farah bingit.
Awalnya gue nggak ada niat buat berteduh, karena gue kira cuma rintikan aja. Tapi semakin gue nekat untuk menerjang hujan, hujannya pun tambah deras yang membuat baju gue jadi basah kuyup. Pikiran gue pun buyar, antara konsen ke jalan sama lihat rumah warga yang ada terasnya. Dan akhirnya gue nemuin rumah yang cocok buat berteduh, selain ada teras yang cukup luas di sini ada tempat duduknya juga, jadi gue bisa nunggu hujan reda sambil duduk manis.
Setelah menyetandarkan montor, tanpa dipersilahkan tuan rumah, gue langsung duduk begitu saja di kursi yang terbuat dari rotan itu. Tak berapa lama, feeling gue jadi nggak enak, ini bukan masalah hantu penunggu kursi kosong layaknya dalam sebuah film, tapi ini lebih ke takut karena gue denger suara berisik dari samping rumah, dan ternyata suara aneh itu berasal dari Anjing penjaga rumah yang tak dirantai.
Karena gue takut banget sama Anjing, gue langsung menstarter motor gue dan membuat garis yang ada di speedometer menunjuk angka 40 km/jam, terlalu cepat untuk permulaan dan terlalu berbahaya di jalan yang sekarang licin karena terkena air hujan. Dan alhasil gue terjatuh dari motor, untung yang punya rumah langsung keluar, dan Anjing yang tadinya menggonggong berubah menjadi Anjing yang kalem dan manja, ah bermuka dua banget tu Anjing.
Setelah mengurus Anjing kesayangannya, si punya rumah langusng datang menghampiri gue, gue pikir dia mau bantu gue untuk berdiri, tapi gue salah. Dia lebih tertarik membantu beat gue, yah sepertinya dia harus belajar tentang pertolongan pertama pada kecelakaan deh kayaknya, biar bisa bedain mana yang lebih dulu ditolong dan mana yang harus diabaikan ketika terjadi kecelakaan.
Setelah beat Gue berdiri tegak, giliran gue yang dengan sedikit menahan sakit dan malu pastinya, mencoba berdiri dan membersihkan pakaian putihku yang sekarang berubah menjadi coklat.
“Makasih ya Bang.” Ucap Gue kepada si pemilik rumah.
“Iya Neng.”
“Nggak ada yang sakit kan?” Tanya si abang yang sepertinya baru menyadari bahwa Gue lah yang mempunyai perasaan bukan montor Gue!
“Ini masih hujan deras, berteduh di sini dulu saja nggak papa.” Kata si abang.
“Nggak usah Bang, makasih. Dah terlanjur basah, saya langsung pulang saja. Sekali lagi makasih ya Bang.” Kata gue yang kemudian kembali mengendarai beat setelah memberi senyuman kepada si pemilik rumah yang sudah baik menawari teras rumahnya untuk berteduh itu.
Di sepanjang perjalanan, mulut gue tak bisa berhenti untuk ngomel sendiri. Seakan-akan menyalahkan takdir yang tak berpihak ke gue. Baru aja gue pengen ngerancang semua hal yang berhubungan dengan hujan pertama, gue pengen selfie pakai payung pas di hujan pertama terus diposting di instagram dengan keterangan Mungkin beberapa bulan yang lalu benda ini kehilangan fungsinya, yang awalnnya untuk melindungi diri dari hujan berubah untuk melindungi diri dari sengatan matahari, tapi sekarang dan beberapa bulan ke depan, fungsi benda ini akan kembali seperti biasanya, yeah. #selamatdatang #musimpenghujan #happy #with #umbrella. Terkesan lebay tapi mengandung makna yang dalam, hahaha.
Ya, ya, ya itu hanya bisa jadi khayalan gue saja, buktinya hari ini gue nggak bawa payung ataupun jas hujan. Jangankan memikirkan untuk selfie, memikirkan bagaimana caranya gue bisa pulang tanpa terlihat banyak orang saja sudah membuat gue pusing, argh. Benar-benar hari yang memalukan.
Setelah sampai rumah, gue baru ingat kata-kata Esti kalau air hujan pertama itu berbahaya dan bisa bikin sakit, ya gue harap itu benar, jadi ada alasan buat gue nggak masuk sekolah besok, hahah.
“Hloh Ya, kamu nggak bawa jas hujan ya?” Tanya ibuku sesampainya aku di rumah.
“Iya Bu.” Jawabku dengan berjalan menuju kamar mandi yang jaraknya cukup jauh dari ruang tamu.
“Ya sudah langsung mandi sana, jangan lupa keramas. Bajunya langsung direndam pakai rinso aja Ya!” Teriak ibu yang masih saja asik duduk di ruang tamu sambil menghabiskan cemilan favorit gue, gethuk.
“Iya Bu, siap!” Balasku.
Setelah melakukan ritual mandi yang memakan waktu cukup lama, membuat perut gue keroncongan. Gue langsung menuju ruang tamu, dengan harapan masih ada gethuk yang tersisa untuk gue.
“Bu, kok gethuk nya habis?” Kataku dengan rauh wajah muram.
“Di kulkas masih ada 3 kerdus Ya!” Jawab ibu yang sekarang berada di depan rumah, mungkin sedang mengecek buah mangga samping rumah ada yang jatuh atau enggak.
Tanpa basa-basi gue langsung menghabiskan satu kerdus yang isinya kurang lebih lima belas potong dadu gethuk, yah memang gethuk adalah makanan favorit gue. Kata orang gethuk berasal dari ketela, tapi menurut gue bukan. Menurut gue, gethuk itu berasal dari bermacam-macam buah, strowbery, durian, bluebery dan lain-lain, haha. Soalnya rasa gethuk yang gue makan itu bermacam-macam dan nggak ada rasa ketela sama sekali malah cenderung ke buah-buahan, mantab deh pokoknya.
Hujan yang tadinya deras perlahan-lahan mereda bersama tenggelamnya matahari di ufuk barat. Mulailah terdengar suara katak dan suara lainnya yang yang membuat bulu kuduk gue merinding. Suara itu tak lain dan tak bukan adalah suara adek gue yang bernyanyi lagu akulah serigala dan itu membuat imajinasi gue terbang melintasi batas. Jangan-jangan nanti ada serigala yang masuk dan ngira gue itu Nayla terus tanpa gue sadari si Tristan datang dan srigala itu pun pergi, dan endingnya si Tristan nemenin gue sampai tidur dan jagain gue dari serigala jahat yang ingin mencuri gue. Khayalan yang bener-bener enggak mutu, lebih enggak mutu dari khayalanku yang pertama tadi.
Tak berapa lama suara adek gue hilang ditelan keheningan malam, dan mata gue pun seakan terkena getah pohon nangka. Tanpa pikir panjang gue langsung lompat ke kasur dan tidur dengan posisi seperti ebi.
Suara indah dari katak semalam terganti dengan suara nyaring ayam jago yang menandakan bahwa hari ini adalah hari baru. Gue pun terbangun dan tangan gue langsung memegang kening berharap ada kehangatan yang terasa. Tapi ternyata suhu badan gue enggak berubah dari sebelumnya, itu berarti hari ini gue nggak sakit. Dengan terkejut gue langsung bangun dan mencoba berbicara, siapa tahu suaraku berubah dan memeriksa di bagian hidung apakah ada cairan berlebih tanda gue flu, dan hasilnya gue dinyatakan sehat, dan hari ini gue harus berangkat sekolah.
“Hey Rya!” Sapa Ghadis sesaat setelah gue tiba di kelas.
“Hey.” Jawabku dengan lemas.
“Kenapa nggak semangat sih?” Tanya Esti yang tiba-tiba datang.
“Hey Esti, gue minta pertanggungjawaban dari Elo. Katanya kalau kena air hujuan pertama itu bisa bikin sakit, buktinya sekarang gue sehat nggak ada gejala masuk angin sama sekali.” Kata gue.
“Hloh, berarti kemarin kamu kehujanan?” Tanya Esti dan Ghadis yang hampir bersamaan.
Raut wajah gue pun berubah, kenapa juga gue harus menyalahkan Esti yang secara tidak langsung gue bercerita pengalaman hujan pertama. Dan pengalaman itu adalah kehujanan. Mungkin mereka sedang tertawa di dalam hati, menertawakan kesialan yang kualami, dan gue harus siap berpura-pura tertarik dengan cerita mereka tentang pengalaman hujan pertama.
“Nggak ada bedanya sama kita Ya.” Tambah Ghadis.
“Maksud Lo?”
“Iya, aku dan Esti terjebak hujan di sekolah. Awalnya aku ngajak Esti beristirahat di UKS terlebih dulu sebelum pulang, eh tiba-tiba hujan turun dengan derasnya.”
“Terus kalian nunggu sampai hujannya reda?” Potong gue yang sekarang mulai tertarik dengan cerita mereka.
“Ya iyalah, gara-gara kata Esti tentang hujan pertama yang berbahaya untuk kesehatan, kita nunggu sampai lumutan di UKS. Dan buktinya Lo nggak papa walaupun kemarin kehujanan.” Jawab Ghadis dengan lirikan mata yang tertuju ke Esti.
“Siapa suruh percaya sama kata-kataku, aku kan cuma menyampaikan informasi dari orang lain.” Kata Esti yang membela diri.
“Dan parahnya lagi Ya, perut kita jadi keroncongan gara-gara kemarin belum sempat makan siang, dan harus menunda makan lagi karena hujan. Coba kejebak hujannya di kantin makmurlah kita, eh hla ini kejebak di UKS nggak ada makanan sama sekali, kalau terpaksa mungkin kita makan kapas dengan selai balsem.” Kata Esti yang ikut menceritakan pengalamannya kemarin.
“Kita? Lo aja kali gue enggak!” Sahut Ghadis.
“Ternyata kita sehati ya, walaupun gue kehujanan seenggaknya sampai rumah ada gethuk yang membuat perut gue lebih dari kenyang.” Kataku yang mencoba membuat mereka iri.
“Ih, pengen.” Kata Esti dan Ghadis yang lagi-lagi hampir bersamaan.
“Ni, aku bawa kok.” Kata gue yang kemudian mengambil satu kerdus getuk yang ada di dalam tas.
“Thank you.”
“Oh iya, ini kan baru permulaan masih ada hujan-hujan yang lainnya. Bagaimana kalau kita menikmati sensasi hujan bersama-sama.” Kata gue dengan mulut penuh gethuk.
“Setuju!” Kata Esti setelah menelan gethuknya.
“Kita duduk bareng diteras sambil ngeteh pasti terasa nyaman. Bagaimana Esti? Rumahmu kan yang paling dekat dengan sekolah, jadi lokasinya dirumahmu.” Kata gue yane meminta persetujuan Esti.
“Oke.”
“Eh, bentar nggak asik dong, kalau keinginan Esti yang terpenuhi.” Kata Ghadis.
“Jadi maksudmu, kamu pengen ngajak pacarmu gitu? Dan kita hanya gigit jari lihat kalain berdua?” Tanya Esti.
“Nggak lah, gue juga tahu kapan waktu buat pacar kapan waktu buat kalian, dan besok pure buat kalian.”
“Terus maksud kata-katamu tadi apa?” Tanya Esti yang masih dibuat penasaran dengan kata-kata Ghadis.
“Gini, setelah hujan reda kan aliran parit depan rumah Esti penuh, nah kita buat kapal kertas terus kita layarkan di parit itu.” Jelas Ghadis.
“Setuju, jangan lupa ambil photo dan upload di instagram keterangannya gini kapal kertas teruslah berlayar mengikuti arah air parit ini, jangan berhenti sebelum tiba di tujuan walaupun banyak cobaan yang menghadang, begitu juga dengan kehidupan, walau banyak rintangan yang dihadapi kita tidak boleh menyerah untuk mencapai tujuan kita.”Tiba-tiba kta puitis itu keluar dari mulut gue yang membuat Ghadis dan Esti menjadi meleleh.
Hujan memanglah suatu hal yang ditunggu-tunggu disaat musim kemarau seperti saat ini, berkat hujanlah dunia ini hijau dan berkat hujan jugalah tumbuh beraneka macam buah dan biji-bijian yang terkadang membuat kita terlena dengan semuanya. Yang harus kita lakukan adalah terus menjaga kelestarian alam dan pastinya terus bersyukur kepada Tuhan, karena dengan bersyukur nikmat itu akan bertambah.

Sekian

Senin, 22 September 2014

Mie Instan Vs Rokok

Mie Instan Vs Rokok

“Sudah ku bilang kan, kurangi rokokmu!!”
“Terus kamu sendiri bagaimana? Apa sudah mengurangi makan cacing kriting itu!”
“Hei, jangan samakan makanan favoritku dengan hewan menjijikan itu!”
Suasana pun menjadi panas, tak ada yang mau mengalah satu sama lain. Pacarku adalah perokok berat dan aku berusaha menghentikan kebiasaan merokok pacarku itu. Tak ada salahnya kan, itu demi kesehatan dia, tapi apa balasannya? Dia malah mengeluarkan kata kasar padaku, sepertinya kecintaan dia terhadap benda tabung yang penuh dengan racun itu lebih besar dari cintanya padaku.
“Mie instan juga bahaya untuk kesehatan, jadi kamu harus menguranginya juga.” Kata Soni yang berusaha mendinginkan suasana.
“Lebih bahaya rokok!!”
“Kamu nggak lihat gambar di bungkus rokok itu?”
“Merokok dapat menyebabkan kanker paru-paru, kanker mulut dan tenggorokan. Kamu nggak lihat? Atau sengaja mengabaikannya?” Kataku yang masih saja terpancing emosi.
“Mie instan juga menyebabkan kanker, dan seharusnya di bungkus mie instan juga harus di munculkan gambar mengerikan itu, bukan hanya di bungkus rokok!”
“Oke, cukup! Aku sudah nggak tahan lagi dengan hubungan kita, selalu saja berdebat dengan topik yang sama dan tak ada satu pun yang mau mengalah, lebih baik kita udahan aja, aku capek.” Kataku.
“Oke kalau itu maumu!” Kata Soni yang kemudian pergi meninggalkan aku.
What? Dia pergi begitu saja setelah membuat kekacauan seperti ini? Seharusnya dia berusa meredam amarahku dan mau mengalah demi aku dan hubungan kita, tapi ternyata dia lebih memilih rokok daripada aku, that’s so pity.
Ok fine, mulai hari ini aku menyandang stasus jomblo. Mungkin itu lebih baik, daripada tiap hari aku selalu khawatir tentang tensi darahku yang sepertinya naik setelah aku bertengkar dengan Soni. Tapi, yang membuat aku tak nyaman adalah tentang intensitas pertemuanku dengan Soni yang sering, aku dan Soni adalah rekan kerja sebelum akhirnya benih-benih cinta itu pun tumbuh. Semua rekan kerjaku bahkan bosku mendukung hubungan kita, dan mengharapkan hubungan kita sampai kepelaminan. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, hubungan kita kandas di tengah jalan, dan aku harus berakting agar pertengkaran ini tidak terdengar oleh rekan-rekan kerjaku lainnya.
“Makan siang pakai apa kamu Monic?” Tanya Citra disaat jam makan siang.
“Sama mie goreng sambal ungu dong.”
“Waow, variant  baru ya itu?” Tanya Isna.
“Yups betul. Beruntungnya aku bisa jadi taster produk mie instan terbaru.”
“Gitu aja dibanggain.” Kata Soni yang tiba-tiba datang dan duduk di sebelahku.
“Nih, lihat bekal makan siang ku.” Soni pun menunjukan bekal makan siangnya yang hampir memenuhi 4 sehat 5 sempurna, minumnya pun jus yang dicampur susu, dia benar-benar memperhatikan gizi di makanannya.
“Nggak kayak kamu, mie instan melulu.”
“Nggak bisa masak, atau nggak punya uang lebih buat beli yang lebih bergizi?” Kata Soni yang lagi-lagi memancing emosiku. Karena sekarang aku berada di kantor ku coba untuk mengendalikan emosiku, dan berpura-pura bersikap manis di depan Soni.
“Bisa jadi seperti itu.” Kataku yang tak mau menanggapi Soni.
Soni pun mengambil bekal makan siangku dan membuangnya ke tong sampah, dan dia menyodorkan bekal makan siangnya sebagai ganti makan siangku yang sudah ia anggap sampah itu.
“Heh, maksud kamu apa sih? Itu makanan bukan sampah!” Aku pun berdiri dan melotot kearah Soni. Kali ini aku benar-benar tak bisa mengendalikan emosiku, dan tak ku pedulikan teman-temanku yang terlihat bingung melihat kita.
“Kayak gini yang namanya makanan? Yang hanya membuat kamu kenyang tapi tak menyehatkan?” Soni pun meladeni omonganku.
“Hei, kamu apa-apaan sih?” Kata Soni saat tanganku menuju ke kantung bajunya.
“Dan ini yang namanya penghilang setres?” Aku pun mengambil satu bungkus rokok yang ada dikantungnya dan langsung ku injak dengan sepatu high heel ku.
“Bahkan menurutku inilah penyebab setres, yang berujung kematian!”
“Sudah hentikan!” Teriak Isna.
“Ayo kita cari tempat makan lain!” Isna dan Citra pun membawaku pergi sebelum hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.
Yah, beginilah resiko punya pacar satu kerjaan. Enaknya kalau lagi kasmaran bisa jadi penyemangat, kalau lagi musuhan kayak gini dah pasti bikin males dan pengen cepat-cepat pulang.
Akhirnya jam pun menunjukan pukul 15.00, dan aku sudah berada di halte bus untuk menunggu jemputan masal itu datang. Biasanya aku memilih bus yang masih terlihat longgar, tapi kali ini karena mood sedang terganggu, aku naik bus pertama yang lewat di depanku dengan alasan agar cepat sampai rumah.
Saat aku menaiki bus, terlihat banyak tempat duduk yang sudah terisi tapi ada satu bangku yang masih kosong di pojok belakang. Padahal aku naik dengan Citra, itu berarti salah satu diantara kita harus berdiri sampai tiba di lokasi tujuan. Aku dan Citra menuju ke bagian belakang bus, dan betapa terkejutnya aku saat mengetahui penumpang yang duduk di samping kursi kosong itu adalah Soni. Citra pun memilih berdiri dan mempersilahkan aku duduk. Karena terpaksa aku pun duduk di samping Soni.
Suasana kikuk pun tercipta. Aku berkali-kali menelan ludah  dan membasahi bibir dan Soni terlihat menikmati pemandangan luar dengan korek api yang masih ditangannya. Beberapa kali pengamen jalanan masuk untuk sekedar mendendangkan lagu tempo dulu, tapi itu tak membuat keheningan diantara kami sirna, ironi sekali memang jika dibandingkan dengan suasana di bus saat ini.
Saat bus berhenti tepat di depan SMA Nuansa Indah, aku dan Citra pun turun. Tanpa basa-basi aku beranjak dari kursi itu dan meninggalkan Soni sendiri.
“Cie, yang duduk berdua,” ledek Citra ketika kami sudah turun dari bus.
“Apaan sih,” kataku yang kemudian berjalan mendului Citra.
“Tadi kamu lihat Soni nggak? Maksudku sebelum kamu duduk di sampingnya?” Citra pun mengejarku dan berjalan di sampingku.
“Aku lihat dia ngrokok, dan pas kamu nongol tiba-tiba dia mematikan putung rokoknya.”
“Mungkin dia takut sama aku,” kataku yang masih berjalan tanpa memperhatikan Citra.
“Bukan itu Monic!!! Dia masih peduli sama kamu, dia nggak ingin kamu jadi perokok pasif.”
“Coba kalau yang duduk itu aku, sudah pasti habis satu bungkus rokok.”
“Oh.” Kataku yang kemudian masuk ke halaman rumah dan meninggalkan Citra sendiri di jalan.
“Ihih Monic, diajak bicara  malah masuk!” Teriak Citra.
Pagi harinya, dengan sisa semangat yang ku punya akupun menuju ke kantor. Sesampainya di kantor, ternyata belum ada manusia sama sekali. Yeah, kali ini aku memecahkan rekor, berangkat paling awal. Biasanya aku paling terakhir tiba di kantor, yah itu karena faktor transportasi. Kadang bus datang tepat waktu kadang juga molor, tapi banyak molornya, mungkin ngejar target. Jadi tiap ada orang yang berdiri di jalan selalu saja di samperin walau kadang ditolak karena bukan bus jurusannya, kasian.
Saat berada di dalam kantor perhatianku pun tercuri saat melihat koran yang berada di meja kerja si bos. Terlihat gambar mie instan yang ku makan kemarin, karena penasaran aku pun meminjamnya dan membaca topic yang jadi sorotan utama itu. Dan betapa kagetnya aku, membaca berita bahwa BPOM mengeluarkan statemen bahwa mie instan dengan rasa cabe ungu tidak layak dikonsumsi manusia, karena ada kadar zat kimia dalam jumlah yang melampaui batas keamanan.
“Udah baca berita tadi pagi belum Mon?” Tanya Isna di saat jam istirahat yang kubalas anggukan kepala.
“Kamu harusnya minta maaf ke Soni, ada baiknya juga kan kemarin dia buang makanan mu?” Sahut Citra.
“Betul itu yang dikatakan Citra.”
“Cie, yang diomongin nongol.” Kata Citra yang melihat Soni sudah berada di pinggir meja makan kami.
Tiba-tiba soni melihat bekal makan siangku, tak ada kata yang keluar dari mulutnya ketika melihat laukku adalah telur dadar. Dia pun memberiku satu botol jus jambu dan kemudian pergi begitu saja.
Dia selalu saja memperhatikan aku, apa yang aku makan dan minum tak luput dari perhatiaanya. Merasa bersalah juga telah membetak dia kemarin, dan telah lancang mengambil rokok yang ada di sakunya. Tapi itu karena aku care sama dia, nggak mau dia sakit karena efek buruk dari rokok, tapi dia justru tak memperhatikan kesehatannya, malah aku yang ia perhatikan, argh....
Setelah ku habiskan bekal makan siangku, aku pun pergi dengan membawa jus jambu yang baru kuminum sedikit. Aku pun mencari Soni di warung makan depan kantor. Dan betul saja dia berada di sana, yang membuatku semakin bersalah adalah ketika melihat minuman yang ia minum adalah es teh, sedangkan aku minum jus jambu kesukaannya.
“Ini.” Kataku yang memberikan botol jus jambu.
“Aku sudah meminumnya, sekarang aku berikan lagi ke kamu.” Soni pun menatapku dengan tatapan seperti orang bingung.
“Kamu juga harus meminumnya, karena ini baik untuk kesehatannmu.” Jelasku yang masih terlihat kaku saat berbicara dengan Soni.
“Oh iya, maaf soal yang kemarin. Ini sebagai gantinya.” Kataku yang memberi uang kertas berwarna hijau.
“Itu sebagai ganti rokok yang kuinjak kemarin, tapi maaf aku nggak bisa membelikan kamu dalam bentuk rokok. Terserah kamu, mau buat beli rokok lagi atau tidak, aku tak peduli.” Kataku yang kemudian pergi.
“Aku akan menggunakan uang itu untuk membayar makan siangku.” Kata Soni yang sempat menghentikan langkahku.
“Aku sedang belajar untuk tidak merokok lagi.” Kata Soni yang membuat bibirku melebar.
Setelah jam makan siang berakhir, aku pun masuk ke ruang kerjaku dengan pikiran yang masih semrawut. Apa maksud Soni tadi, apakah dia benar-benar mencoba untuk berhenti merokok atau hanya sekedar omong kosong doang. Kalau memang benar, apa yang aku berikan kepadanya, bahkan aku sendiri belum mencoba mengurangi makan mie instan, hanya saja tadi pagi karena persediaan satu kerdus mie ku habis makanya aku bawa bekal telur dadar, ah egoisnya aku. Mencoba memperhatikan kesehatan orang, kesehatan diriku sendiri tak sempat ku perhatikan. Memang benar mie instan jika dikonsumsi terlalu sering berakibat negatif untuk kesehatan, dan aku mencoba tak mempedulikannya untuk menjadi pemenang dalam perdebatan yang terjadi kemarin. Benar-benar membuatku frustasi saja ni masalah. Hufth.
Setelah mengumpulkan keberanian, akhirnya aku mengirim pesan kepada Soni. Aku ingin membicarakan masalah ini dengan baik-baik agar tak ada rasa canggung atau dendam ketika kita bersama, apalagi kita satu kerjaan rasanya bakal nggak nyaman jika harus begini terus.
Soni pun mengiyakan tawaranku untuk berbicara sepulang kerja, dan aku memilih lokasi halte bus untuk mengeluarkan uneg-uneg yang ada di hati. Tempat yang sama sekali tak romantis untuk memperbaiki sebuah hubungan yang telah hancur karena sebuah keegoisan, tapi justru tempat itu yang paling pas karena di sana lah tempat kita dipertemukan dan akhirnya menjalin hubungan yang serius, dan mungkin di tempat sana jugalah hubungan kami akan kembali kesemula atau tidak sama sekali, aku pun masih bingung mengenai hal ini.
Setelah jam kantor berakhir, aku bergegas menuju halte dekat kantor. Dan terlihat Soni sudah duduk tangan dilipat di dadanya.
“Hai.” Sapaku.
“Ayuk Neng naik!” Ajak seorang kondektur bus yang melihatku baru tiba di halte.
“Tidak Bang, makasih!” Tolakku yang kemudian duduk di samping Soni.
“Bagaimana kabarmu?” Soni pun bertanya tentang kabarku, seperti orang yang baru bertemu setelah sekian lama berpisah.
“Baik, dan kamu?” Jawabku.
 “Hahaha terlihat aneh dan canggung ya.” Kata Soni dengan tertawa getir.
“Em.m aku minta maaf atas keegoisanku selama ini.” Aku pun memulai topik pembicaraan yang sudah aku persiapkan sejak tadi siang.
“Aku tahu kita saling care satu sama lain. Aku melarangmu merokok, dan kamu melarangku makan mie instan. Semua itu ada manfaatnya untuk kesehatan, tapi karena keegoisan masing-masing rasa-rasanya hal itu menjadi boomerang antara kita.”
“Aku pun begitu, sebagai seorang laki-laki tak selayaknya aku menghindar dari masalah. Seharusnya aku mendengar kata-katamu untuk berhenti merokok, karena batuk yang aku alami ini karena kebiasaan burukku itu.” Kata Soni.
“Apa? Kamu sakit Son? Sudah minum obat dari dokter belum tadi siang?” Kataku yang terlihat panik saat mengetahui bahwa batuk yang Soni alami sejak dulu karena efek dari rokok.
“Terimakasih. Terimakasih kamu masih perhatian sama aku.” Kata Soni dengan menatap mataku.
“Seharusnya aku yang bilang makasih ma kamu.” Aku pun membalas tatapan mata Soni.
“Tapi, sebaiknya kita sendiri dulu saja.”
“Sebelum kita mencintai orang lain, kita harus mencoba mencintai diri kita sendiri dulu. Memang kelihatannya mudah, tapi sebenarnya itu sangat sulit apalagi itu dilakukan karena paksaan dari pihak lain.”
“Aku harus mencoba mengurangi mie instan dan kamu harus mengurangi atau bahkan menghentikan kebiasaan merokokmu itu dengan kesadaran diri bukan karenaku atau karenamu.” Jelasku.
“Kamu juga harus menghentikan kebiasaan makan mie instan jangan cuma mengurangi!” Kata Soni yang membuat aku tercengang.
“Hey! Kalau nggak ada waktu buat masak, andalanku cuma mie instan.”
“Aku yang akan membawakan bekal untukmu. Aku akan membawakan nasi yang lengkap dengan sayur dan lauknya juga jus jambu atau buah lain yang harganya murah.” Kata Soni.
“Kok yang murah sih?”
“Lagi krisis moneter ini. Lagian gajiku lebih sedikit dari pada gajimu, harusnya kamu yang ngasih jus ke aku!”
“Hey! Mana sempat aku buat jus, kalau kamu nggak ikhlas buatin jus, nggak usah buatin aja!” Kataku kesal.
“Gitu aja marah.”
“Senyum dikit dong.”
“Tenang aja, aku ikhlas kok buatin jus, jus spesial untuk mu.”
“Hehehe makasih. Tapi nggak papa kan kalau kita sendiri dulu.” Tanyaku yang memastikan status hubungan kami.
“Iya nggak papa, kita memang harus sendiri dulu, saling intropeksi dan bersikap lebih dewasa lagi.”
“Ship.”

***



Senin, 15 September 2014

Kakak Kelasku


Kakak Kelasku

Kata kebanyakan orang, masa terindah adalah masa SMA masa dimana yang namanya cinta bebas berkeliharan dari hati satu ke hati yang lainnya, tapi itu tidak berlaku untukku. Jika ada yang bertanya masa apa yang ingin kamu ulangi lagi? Dengan lantang aku menjawab masa SD, masa dimana aku menikmati hidupku tanpa ada rasa khawatir tentang masa depan, seperti apa besok, jadi apa aku dan harus bagaimana aku jika semua tak sesuai dengan rencana.
Dulu aku bersekolah di SD yang cukup tenar di Desaku, SD Bingkisan Negeri namanya. Masih teringat masa indah dimana aku mengenakan seragam merah putih dan berada di sebuah ruangan paling pojok diantara ruang lainnya. Entah apa maksud dari Kepala Sekolah yang memutuskan ruang kelas 1 berada paling pojok, seharusnya ruang kelas 1 berada paling dekat dengan pintu gerbang. Yups, biar cepat keluar dari gedung berbentuk L itu dan pastinya tidak membuat iri kelas lainnya yang masih setia menunggu bel pulang sekolah. Hahahaha.
Ada untungnya juga kelas 1 ada di pojok, yang keberadaannya diapit kelas 2 dan kelas 5. Pasalnya pintu akses kelas 1 dekat dengan pintu masuk kelas 5. Jadi intinya jika aku masuk ke kelas berati aku harus melewati pintu kelas 5 dan barulah melewati pintu kelas 1.
Banyak temanku yang terlihat canggung saat melewati pintu kelas 5, mereka hanya melihat ke bawah dan tak berani melihat penghuni kelas 5 yang selalu memperhatikan kita, mungkin karena kita terutama aku terlihat lucu dan maaf cupu pastinya, hahaha.
Entah pengaruh apa yang masuk dalam diriku, sejak kelas 1 SD aku sudah berani melirik kakak kelas. Apa karena sering melihat sinetron tersanjung ya? Sinetron favorit ibuku dan menjadi favoritku juga.
Berbeda dengan temanku, saat aku masuk dan keluar kelas aku berani melihat ke arah kelas 5. Dan tak jarang ada yang menggodaku, kadang mereka memanggilku dengan sebutan adek manis, adek cakep, atau adek ganteng, hah benar-benar ingin ku ulangi masa itu. Saat ini tak ada yang dengan frontal memanggilku dengan kata indah itu, pacarku saja tak pernah memujiku kalau aku ganteng, justru dia selalu memanggilku dengan sebutan jelekku. Malangnya nasibku.
Suatu hari saat aku pulang, aku melihat ada kakak kelas manis duduk di bangku paling depan. Biasanya penunggu bangku itu adalah kakak kelas cowok, mungkin karena sistem duduk yang bergilir yang menyebabkan kakak manis itu berada di bangku depan. Aku pun tersenyum saat kakak manis itu melihat ke arahku. Dan dia pun membalas senyumanku sambil melambaikan tangan tanda melepasku pergi.
Setelah hari itu, aku mencoba mendekati kakak kelas pemilik tahi lalat di dekat bibir itu. Maksudku bukan mendekati dalam artian ingin ku jadikan pacar, ya nggak mungkin lah, waktu itu aku belum cukup umur untuk memikirkan hal itu. Aku hanya ingin mendapat perhatian dari kakak manis itu.
Setiap istirahat, aku memutuskan untuk bermain di taman yang letaknya di depan ruang kelas 6. Aku sering melihat kakak manis itu berada di taman yang sekarang menjadi tempat tongkronganku.
“Hai Adek manis, namamu siapa?” Tanya kakak manis itu.
“Arif Mbak. Kalau Mbak namanya siapa?”
“Tina.”
Saat kakak manis itu menyebutkan namanya, aku teringat kepada sosok perempuan yang juga cantik dan manis. Namanya juga sama, Tina. Itu hlo lawan main Syahrukan dalam film Kuch Kuch Hotahe, film India yang menjadi favoritku sejak kecil dan lagi-lagi karena ibuku juga memfavoritkan film itu.
Aku sempat berpikir, apa yang ada di otak Tina saat aku menyebutkan namaku. Nggak mungkin kalau dia terbayang sosok artis yang imutnya sama seperti aku, setahuku tidak ada artis yang memiliki nama depan seperti namaku. Seharusnya ibuku menamaiku Dimas Andrean pemain Bawang Merah Bawang Putih  yang menjadi sinetron andalan sebuah stasiun televisi yang lagi-lagi menjadi tontonan wajibku.
Mungkin yang ada di pikiran Tina saat itu adalah pelajaran PKn, yang menerangkan kata arif artinya sama dengan bijaksana. Mungkin ibuku menamaiku Arif supaya aku menjadi lelaki yang bijaksana dalam memilih cinta. Atau bijaksana dalam mempermainkan perempuan, hloh nggak lah aku kan cowok setia. Tapi kadang suka lirik-lirik dikit sih sebenarnya, hahaha.
“Kok nggak ke kantin Dek?”
“Nggak Mbak, aku bawa bekal sendiri.”
“Bolu kukus mau nggak Mbak?” Kataku yang menawarkan sisa bekal yang belum sempat ku makan.
“Wah kebetulan sekali, itu makanan favoritku.” Kata Tina yang terlihat senang.
“Ini Mbak makan aja, aku sudah kenyang.” Aku pun menyodorkan tempat makan yang terisi dua bolu kukus.
“Semuanya ya Dek.”
“Iya.” Jawabku dengan tersenyum.
Sejak hari itu, setiap aku membawa bekal bolu kukus, selalu ku sisihkan untuk Tina. Karena hanya dengan hal itu aku bisa dekat dan melihat senyum darinya. Tapi suatu ketika, aku melihat sosok laki-laki keluar dari ruang kelas 6. Dia memberikan selembar kertas kepadanya, dan Tina terlihat sangat senang melebihi ketika aku membawakan makanan favoritnya. Aku tak tahu apa yang ada di kertas itu, sampai-sampai wajah Tina berubah menjadi merah muda, aku pun memutar otak agar bisa melihat dia tersenyum seperti itu padaku.
“Ini Mbak.” Kataku dengan menyodorkan sesuatu.
“Apa ini?” Terlihat kebingungan di wajah Tina.
“Iya itu, Mbak Tina nggak suka?” Tanyaku polos.
“Hahahaha. Kok selembar kertas?” Tawa Tina terbahak-bahak.
“Nggak papalah, ntar kan ulangan Matematika jadi aku nggak perlu nyobek kertas lagi, makasih ya.” Katanya yang kemudian masuk ke kelas dengan tawa masih menyertainya.
Yups benar, aku pun mengikuti cara laki-laki itu dengan memberi Tina selembar kertas. Dan rencanaku pun berhasil, aku bisa melihat dia tersenyum dan poin plusnya aku bisa melihat dia tertawa terbahak-bahak. Entah tawa apa yang ia berikan kepadaku. Tawa bahagia atau tawa ledekan.
Hari, Minggu, Bulan dan Tahun pun berganti. Kini aku sudah berumur 16 tahun dan sudah memakai seragam putih abu-abu. Aku tak lagi imut seperti dulu, tapi jangan tanya soal kegantenganku, Alhamdulillah dengan berjalannya waktu kadar kegantenganku pun bertambah dan akibatnya aku digilai banyak perempuan, hahaha.
Saat aku mengikuti pengajian satu kelurahan untuk yang pertama kalinya, mataku langsung tertuju pada sosok perempuan berjilbab ungu dengan hiasan bunga-bunga. Aku tak asing lagi dengan sosok perempuan itu. Tapi aku lupa namanya, itulah yang kusesali saat SD, nilai IPS ku sering jeblok karena tak bisa menjawab soal-soal dengan gambar Pahlawan Nasional. Tahu gambarnya tapi nggak tahu namanya, parah kan?
Kegalauanku bertambah saat memori di otakku tak bisa menemukan nama perempuan itu. Ku biarkan saja kegalauan ini menemaniku di sepanjang perjalanan pulang. Dan sesampainya di rumah tak biasanya aku langsung membuka HP, mungkin karena kadar kegalauanku yang melebihi standar keamanan, yang menyebabkan aku membuka hp dan membuka situs pertemanan yang hampir satu bulan tak kubuka.
Banyak permintaan pertemanan yang menunggu konfirmasiku, dan bukannya sombong hlo ya, kebanyakan mereka adalah perempuan, hahaha. Walaupun banyak yang mengirim permintaan pertemanan, aku tak sembarang untuk menerimanya, aku memiliki kriteria tinggi dalam mencari teman, yang ku konfrim selain karena aku mengenalnya, juga karena kecantikan dan banyaknya teman yang ia punya, hloh sama aja kali ya.
Ada salah satu akun facebook yang membuat aku penasaran, sepertinya aku mengenal dia, tapi siapa dia dan dimana aku mengenalnya. Nama akunnya adalah Princes Tisya. Setelah aku melihat profil dan koleksi fotonya, betapa terkejutnya aku saat saat menemukan foto dari koleksi Tisya ada sosok perempuan yang aku maksud. Yang memakai kerudung ungu tadi malam.
Aku pun tak menggubris permintaan pertemanan yang ia kirim, aku lebih tertarik mengirim permintaan pertemanan temannya. Nama akunnya Tina Sweet, yups benar sekali dia adalah Tina, kakak kelas SD dulu.
Tak harus menunggu lama, malam itu juga Tina mengonfrim permintaan pertemananku. Rasa kegalauanku langsung ku usir dan rasa bahagia mendadak datang walaupun tak diundang, hloh emang jalangkung! Dengan berbekal gratisan paket data aku mencoba mengulik informasi tentang Tina, dimana ia kuliah dan bagaimana hidupnya termasuk sudahkah dia mempunyai kekasih.
Dan ups.... Hatiku seakan tertusuk belatih tajam saat mengetahui status hubungannya. Dia sudah mempunyai pacar saudara-saudara, dan sepertinya sudah dari dulu dia menjalin hubungan dengan seorang laki-laki dengan akun “Setya sama kamu”. Hah, harapanku untuk mimpi indah malam ini benar-benar sirna. Sebelum galau itu datang lagi, aku paksakan mata ini untuk terpejam walau dengan hati yang masih gelisah.
Beberapa hari kemudian aku mengikuti takbir keliling, dan tak kusangka Tina juga mengikutinya. Aku ingin mendekati dia untuk sekedar bertanya masih ingatkah dengan aku? Adek kelas yang dulu pernah memberimu bolu kukus. Ah, tapi sepertinya momentnya kurang pas, aku akan mencari moment yang pas dengan memberi dia bolu kukus yang banyak. Tapi apakah dia masih menyukai bolu kukus? Bisa saja selama beberapa tahun ini selera makannya berubah. Contohnya aku, dulu aku nggak suka sama Durian, tapi sekarang kalau lihat buah berduri itu langsung deh ngeces.
Dan tiba-tiba aku melihat sosok laki-laki yang mendekati Tina, dia memberikan beberapa coklat dan ah lagi-lagi aku kecolongan start. Sebenarnya perasaan macam apa ini? Dia sudah punya kekasih dan aku pun juga, tapi saat melihat dia berdekatan dengan laki-laki lain rasanya nggak rela. Hm.m...
Aku pun tak menyerah, dengan segala cara aku mencari kontak ponsel Tina, setelah dapat nomornya, tanpa basa-basi ku kirim pesan singkat kepadanya.
“Assalamu’alaikum Mbak. Ini aku Arif adek kelasmu dulu.”
“Wa’alaikumusalam. Oh, Arif yang ikut takbir keliling kemarin kan?” Isi balasan dari Tina yang membuat aku semakin bersemangat membalsnya.
“Iya Mbak, aku juga yang pernah ngasih bolu kukus dulu itu hlo Mbak.” Kataku yang mencoba mengingatkannya.
“Oh iya aku ingat, gimana kabarmu.” Balasnya lagi.
Saat senang seperti ini, aku teringat akun facebook yang tak gubris selama ini. Padahal berkat akun facebook darinya lah aku mendapat beberapa informasi tentang Tina. Aku pun menerima permintaan pertemanan Princes Tisya dan mengirimnya pesan singkat, bagaimanapun juga dia teman dekat dari Tina, dan teman satu kelurahanku.
Dan aku baru menyadari bahwa Tisya juga pernah bersekolah di SD Bingkisan Negeri, tepatnya satu tahun di atas Tina. Mungkin itulah yang menyebabkan Tina sering nongkrong di taman depan kelas 6 selain karena laki-laki yang ku ketahui bernama Nugroho itu.
Setelah aku beranjak remaja aku baru tahu kalau selembar kertas yang diberikan oleh Nugroho kepada Tina ada beberapa kata yang membuat hati tina berbunga-bunga, bukan hanya sekedar selembar kertas kosong seperti yang aku berikan dulu, ah betapa polos dan bodohnya aku. Dan aku juga pernah mendengar bahwa Tina pernah bersitegang dengan Tisya karena ulah usil Tisya yang menukar surat balasan dari Tina yang isinya Aku juga suka sama kamu diubah Tisya dan teman-temannya menjadi Aku tidak suka denganmu. Hahaha well done Tisya.
Karena merasa bersalah Tisya akhirnya memberikan foto Tina kepada Nugroho, tapi karena inilah yang menyebabkan cinta monyet antara keduanya harus kandas. Orang tua Nugroho menemukan foto Tina di dalam tas anaknya, dan beliau beraksi dengan melaporkan kejadian ini ke Kepala Sekolah. Haha kasian.
Beberapa hari kemudian, dengan semangat 45 aku berangkat ke pengajian. Kupakai pakain terbaikku, apalagi kalau bukan batik bergambar lambang club sepak bola favoritku. Aku sempat curi-curi pandang ke arah Tina, dan sempat beberapa kali tertangkap basah oleh Tina dan teman-temannya, ah memalukan sekali.
Setelah jam menunjukkan pukul 11.00 pengajianpun usai, aku lagi-lagi melihat ke arah Tina, padahal di pengajian itu ada kekasihku, tapi entah mengapa mata ini selalu ingin melihat ke arahnya, walaupun aku tahu kekasihku sedang melihatku. Dengan diam-diam aku mengirim pesan singkat untuknya, yang isinya menawarkan bantuan mengantarnya pulang.
Tina yang juga menyadari posisinya, secara diam-diam meninggalkan tempat pengajian dan menungguku di suatu tempat. Aku pun menyusul Tina, dan mengantarnya pulang. Di sepanjang perjalanan kami menceritakan kisah-kisah lucu masa SD dulu, dan pastinya menanyakan tentang kekasih hati. Dan saat dia menanyakan hal itu padaku, tiba-tiba aku merasa bersalah kepada Ika, kekasihku. Aku mencampakannya dan memilih untuk mengantar Tina pulang. Mungkin ini karena cinta pertama yang belum tersampaikan yang membuat aku senekat ini. Tapi dalam sanubari terdalamku hanya ada Ika seorang, yang selalu ada saat aku sedih dan gundah. Dan saat aku bahagia aku sering melupakannya, ah teganya aku.
“Kamu baru kelas 1 SMA ya?”
“Walaupun masih muda jangan pernah main-main sama yang namanya perasaan. Itu bahaya, apalagi bisa membuat orang terluka.”
“Sekrang aku sudah semester 4, dan hubungan ku dengan Setya mengarah ke jenjang yang serius, dulu waktu aku seumuran kamu, aku memiliki pola pikir yang berbeda dengan teman-temanku, mereka memilih menikmati permainan cinta dengan bergonta ganti pasangan, tetapi aku lebih memilih menjaga komitmen dengan Setya, dan Alhamdulillah langgeng sampai sekarang.”
“Jadi jaga cintamu, jangan sampai dia pergi meninggalkanmu.”
“Memang kita hanya sebatas teman, tapi aku takut Ika mengartikan berbeda tentang kedekatan kita ini.” Kata Tina yang memberi wejangan kepadaku.
“Iya Mbak, aku akan menjaga cintaku kok. Dan akan berhati-hati dalam bergaul. Semoga hubungan pertemanan ini akan langgeng ya Mbak.” Kataku yang berharap bisa menjadi teman Tina.
“Pasti.” Kata Tina.
Kenangan cinta pertama memang membekas, tetapi goresan kenangan itu semakin lama semakin hilang dengan hadirnya cinta terakhir yang membuat aku nyaman berada bersamanya, karena cinta terakhir adalah bagian dari tubuhku, karena dialah yang telah mencuri tulang rusukku, dan hanya kepadaku lah dia akan mengembalikan tulang itu dengan menjadi pasangan hidupku, menjadi makmumku, dan melengkapi hidupku. Walaupun usiaku masih 16 tahun, aku akan memikirkan masa depanku bersama Ika, seperti halnya yang diajarkan Tina tentang kisah cintanya yang bertahan hingga saat ini. Sekarang Tina adalah sahabatku, tempat aku bercerita dan Ika adalah kekasihku tempat dimana hatiku bersandar.
***
Titis Tiyas Sari - @eentiis